Sabtu, 03 November 2012

Bukan Hanya Kata Tapi Realita



“Bertindaklah seolah apa yang kau lakukan membuat perbedaan. Karena kenyataannya memang begitu. Ajari murid-murid menggunakan bakat apapun yang mereka miliki. Hutan akan sunyi jika yang berkicau hanyalah burung-burung yang paling merdu kicaunya. Kita cemas akan jadi apa anak kita nantinya. Namun kita lupa bahwa ia sudah jadi seseorang sekarang.”  (Robert Maynard Hutchins). kata-kata itu mungkin jarang atau belum pernah didengar oleh banyak orang. Tapi bila direnungkan arti maknanya akan menjadi seribu kata-kata indah yang bergelora di pikiran pemikirnya. Semua orang di dunia ini memiliki kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tapi fakta yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia, para murid masih banyak yang dipaksa untuk menurut kepada apa yang dikehendaki para orangtua atau pun guru tanpa memperdulikan kemampuan dari orang itu sendiri. Dan yang dielu-elukan sebagai yang terbaik adalah orang yang memiliki prestasi lebih tinggi dari pada yang lain. Dan yang memiliki nilai di bawah semestinya, hanya ditinggal tidak digubris. Miris memang.
Di suatu hari ada lima anak yang mendatangi gurunya. Mereka adalah Dahlan, Garudha, Rohan, Fitri, dan Nelvi. Mereka mendatangi salah satu guru fisika mereka untuk mengikuti lomba karya ilmiah yang dilaksanakan oleh mentri pendidikan di kota mereka. Mereka sangat optimis untuk bisa diijinkan dan memenangkan perlombaan itu. Tapi mereka juga sedikit pesimis karena beberapa ulangan fisika mereka bisa dibilang kurang baik. Karena menurut mereka, itu mempengaruhi keputusan Pak Santo, sang guru fisika. Dan setelah beberapa kali bertemu dengan Pak Santo, ternyata benar hasilnya. Mereka ditolak karena Pak Santo merasa mereka masih belum pantas untuk didanai oleh sekolah untuk mengikuti lomba itu. Dan sekolah lebih memlih mendanai anak-anak yang lebih baik dibandingkan mereka, menurut sekolah. Mereka pun belum putus asa. Mereka pun mengikuti perlombaan itu dengan dana mereka sendiri yang sangat pas-pasan. Tapi dengan kreativitas mereka yang lebih baik dibandingkan tiga anak yang dikirim oleh sekolah, mereka bisa menjadi juara 1 akhirnya. “Jangan pernah meragukan keberhasilan sekelompok kecil orang yang bertekad mengubah dunia karena hanya kelompok seperti itulah yang pernah berhasil melakukannya.” (Margaret Mead).
perkembangan guru di Indonesia mutlak diperlukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Tapi masih banyak guru yang masih belum ingin mengembangkan pengajarannya dengan cara masih mengunakan cara pengajaran yang didapat ilmunya di jaman dahulu. Seperti menina bobokan murid-muridnya dengan cara bercerita atau membaca disetiap saat beliau mengajar. Serta hanya mengingatkan apa yang harus dilakuakan murid, tapi beliau pun tidak bisa mencontohkannya dengan baik. Seperti yang terjadi pada aku dulu. Salah satu guru SMPku dulu mengingatkanku untuk tidak memelihara kuku terlalu panjang.  Dan selalu memberi hukuman pada anak muridnya bila ada yang memiliki kuku yang panjang. Tapi kenyataannya adalah beliau juga memelihara tiga kuku panjang sejak pertama beliau menjadi guru di sekolahku itu. “Jika kau memberi tahu mereka, mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu. Jika kau menunjukan kepada mereka, Mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri.” (Maria Montessori)
Alangkah baiknya di pendidikan Indonesia tidak ada perbedaan antara anak yang pintar dan yang kurang pintar. Alangkah baiknya juga bila guru itu bukan malah menghardik anak yang kurang pintar dengan sebuatan kasar, tapi dengan cinta mengajarinya agar menjadi anak yang pintar nantinya. Serta baik juga bila para guru itu tidak hanya bicara agar murid mau mengikuti apa yang guru katakana, tapi jadilah guru yang mencontohkan itu semua kepada muridnya agar meniru itu dengan kesadaran diri yang baik. “Anak-anak di dalam kelas kita mutlak lebih penting daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka.”  (Meladee McCArty).

INILAH PEDALAMANMU, INDONESIA!



Pagi ini adalah sinar tercerah yang mendatangi desa terbelakang di pedalaman Papua yang bernama desa Palipo. Tinggal seorang ank kecil yang  sekarang duduk di bangku sekolah kelas tiga SD bernama Mando. Mando tinggal di rumah kecil beratapkan daun lontar bersama dua orangtuanya yang bernama Sarah dand Pama. Sarah bekerja sebagai pencaru kayu dihutan dan Pama adalah pengambil daun lonta. Tapi itu Pama yang dulu, sebelum kecelakaan yang menimpanya membuat Pama hanya bisa duduk, berbaring, dan berdiam diri memandangi langit-langit rumah karena mendapatkan gangguan syaraf otak setelah kepalanya terbentur batu. Namun, keterbatasan itu tidak membuat Mando lekas patah arang untuk mengejar cita-cita sebagai presiden Indonesia dimasa depan. Mando bersekolah di SD Guru Harapan Kita untuk mengejar cita-cita setinggi langit itu.
Mando memiliki cita-cita yang sangat membara di hatinya, yang tidak akan bisa hanya oleh dinginnya es Kutub Utara. sering kali olok dan cacian dari temannya menghujam hati si kecil Mando akan cita-citanya itu. Karena menurut temannya itu cita-cita orang gila untuk seorang Mando. Sesekali orang dewasa pun menghardik anak Sarah itu dengan kata “pemimpi!” dan membuat hati Sarah sedikit tersayat dan mengelus dadanya untuk mengurangi rasa sakit sayatan itu. Sarah percaya kepada cita-cita anaknya itu. tetapi dengan keterbatasan mereka yang untuk bermimpi enak saja susah, beberapa kali patah arang untuk mendukung anak tercintanya itu. Disaat memangku Mando yang sedang belajar di remang-remangnya obor yang menyala, dia berkata: ”cita-cita yang tinggi itu bagus Mando, tetapi lihatlah keadaan kita yang seperti in. lihatlah bapakmu, dia sudah tidak bisa mengenal cita-citamu. Apa mungkin hanya dengan tangan ibu?”, Lalu dielusnya kepala anaknya itu. Nando pun melemparkan secerca senyum kepada ibunya lalu kembali melanjutkan belajarnya, dam sesekali melirik bapaknya yang telah tertidur lelap.
Pagi-pagi buat Mando telah bangun untuk menjemput cita-citanya di SD Guru Harapan Kita. Di pagi yang matahari pun belum memancarkan setitik cahayanya, Mando telah memegang dua ember yang terbuat dari daun lontar lalu pergi mengambil air mandinya. Jarak yang tidak dekat untuk mengambil air, dia lakoni dengan telanjang kaki. Itu membuat rasa dingin tanah pagi menusuk ke pori-pori kaki mungilnya. Setelah dirasa cukup air untuk mandi semua keluarganya, dia melanjutkan pagi itu dengan aktifitas mandi dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Untuk sekolah dia hanya menggunakan celanak pendek merah sekolah dasar yang diberi oleh keibaan salah satu guru sukarelanya yang telah bolong sana sini karena dipakainya sejak kelas satu SD. Maklum, itu dikarenakan jauhnya perkampungan itu dengan dunia luar dan kekuatan ibunya yang hanya dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah hanya sekadar untuk makan saja. Jarak yang jauh dari sekolahnya harus membuat Membuat Mando pergi lebih berangkat lebih pagi dari pada teman-temannya yang tinggal di kampong lain. Jalan yang terjal dan harus melewati jembatan tali yang berbahaya, membuat santi tidak bias tenang menunggu anaknya itu pulang. Tapi sebelum berangkat Mando selalu berkata “Minta izin menggapai cita-cita Mando ya bu?”. Sarah pun hanya bias mengangguk dabn mengelus kepala pahlawan kecilnya itu.
Setelah Mando sampai di sekolah, dia harus menunggu bersama teman-temannya untuk dibukakan pintu kelas oleh guru yang mengajar mereka hari ini. Sambil bermain mereka harap-harap cemas menunggu guru datang, karena mereka takut gurunya hilang lagi seperti kemarin. Di sekolah ini memang tidak ada guru yang menetap terlalu lama. karena fasilitas sekolah yang tidak ada, hanya berupa satu bangunan bekas kandang sapi serta gaji dari pemerintah daerah yang tak cukup, mereka semua enggan mengajar ditempat ini. Dan akhirnya dengan senyum Pak Halim sang guru baru datang juga, “pagi anak-anak, ayo masuk”. Para murid pun bersorak “hore! Pak Halim datang!”, dengan sedikit ribut mereka mengikuti Pak Halim dan berbisik satu sama lain “ayo masuk, ayo masuk, ayo masuk”. Dan seperti biasa Mando duduk di paling depan untuk untuk dapat mengerti apa yang diajarkan oleh Pak Halim, karena dia dan teman-temannya hanya bisa mendengar dan melafalkan kembali yang diajarkan dirumah mereka masing-masing. Itu karena mereka tidak memiliki buku sama sekali. Hanya Pak Halim yang membawa buku, dan menulis semua materi yang akan diajarkan di papan tulis. Setelah pelajaran dirasa sudah terlalu lama dan cukup, murid-murid dipulangkan. Mando pun menghadapi bahaya rintangan pulang lagi untuk mencapai rumahnya.
Setelah  Mando sampai dirumah, ia melihat ibunya sedang mengeringkan kayu untuk dijual. Mando segera memeluk ibunya dan berkata “Bu, Mando tidak mau jadi presiden lagi!” ibunya pun kaget dengan perkataan Mando itu. “kenapa nak?” sahutnya. “Mando sudah tidak percaya keppada pak presiden lagi bu.” Timpal mando. “loh? Kenapa?” makin kagetlah sarah dengan perkataan polos anaknya itu. Dengan dipangku oleh ibunya Mando menjawab “pak presiden sudah mematahkan cita-ciita Mando bu. Karena tidak memberi sekolah yang bagus sama Mando, biar Mando bisa seperti pak presiden. Buku saja, Cuma Pak Halim yang diberi buku. Kapan Mando bisa belajar paki buku saambil dipangku ibu?”. Sarah pun terdiam memandangi muka sedih anaknya, lalu dia berkata dalam hati “mengapa semangat tak terpadamkan anakku bisa mati hanya dengan cita-citanya sendiri? Pak presiden. Kembalikanlah cita-cita anakku, berilah dia sekolah  dan buku yang dapat menempanya bisa sepertimu. Sehingga bisa dia belajar dengan buku di pangkuanku, bukan hanya bicara tidak jelas kemana arahnya karena hanya mengingat-ingat tulisan di papan dan apa yang guru itu jelaskan”. “tega kah kau?”.

Metode Yang Pasaran



Murid mengantuk, ngobrol sendiri dalam pelajaran, dan gagal di setiap ujian? Apa yang salah?.Dalam kegiatan belajar mengajar setiap guru memiliki gaya mengajar mereka masing-masing. Mulai dari yang tidak bermutu sampai yang menjual mutu. itu dikarenakan mereka memiliki pengalaman masing-masing dalam dunia pendidikan. Ada yang sudah bertahun-tahun mengajar sehingga memiliki metode yang berbobot. Atau pun pertama muncul di permukaan karena baru wisuda tetapi memiliki metode pengajaran yang cukup baik, karena telah mendapatkan cukup pelatihan. Ada juga yang telah bertahun-tahun mengajar tapi tidak memiliki bobot dalam metode pengajaran, atau memang tidak memiliki metode yang bagus karena baru. Tapi itulah para kemampuan yang harus dimiliki untuk menjadi guru yang berhasil membawa muridnya. Metode. Kalau tidak mereka tidak akan lepas dari jeratan tiga masalah itu. Masalah yang membuat guru mereka menjadi guru yang gagal.
Salah satu kebiasaan pasaran dari guru yang kurang memiliki kekuatan di bidang metode pengajaran adalah baca, kerja, dan kumpul. Menggelitik memang mendengar bahwa masih adaguru yang menggunakan metode ini dalam pengajaran mereka. Metode ini digunakan mungkin karena guru yang mengajar lagi tidak suka untuk mengajar atau bad mood kata anak muda. Maksud metode ini adalah guru hanya datang dan menyuruh anak didiknya untuk membaca. Setelah itu sang guru hanya duduk di kursi empuknya dan disambi dengan baca Koran terbitan terbaru yang sampai pagi harinya. Setelah muridnya selesai membaca buku, ini waktunya sang guru mengatakan “baiklah anak-anak sekarang waktunya mengerjakan soal halaman 9”. Benar, yang selanjutnya adalah mengerjakan soal dari apa yang telah murid baca. Setelah muridnya selesai mengerjakan dan mata sang guru telah lelah membaca kecilnya huruf Koran harian, dia lalu menunjuk mejanya untuk mengisaratkan para muridnya untuk mengumpulkan di depan. Dan selesailah tugas guru itu. Dan waktunya mengucapkan “selamat bertemu lagi murid-murid”, dan apa jawaban muridnya “iya pak!!!” dengan muka lesu dan meggerutu.
Disisi lain telah banyak guru Indonesia yang telah membuka matanya untuk belajar menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya. guru seperti itu adalah guru yang mengikut sertakan para anak didiknya untuk bersama belajar, bukan hanya guru saja yang bercerita sampai mulut berbusa. Biasanya, guru seperti ini menggunakan metode diskusi dalam sistim pengajarannya. Bukan hanya diskusi antar siswa yang guru itu lakukan, tetapi juga guru memberanikan para muridnya untuk memberikan presentasi kepada teman-temannya di depan kelas. Dan biasanya setelah mereka selesai melakukan presentasi di depan kelas akan ada sesi pertanyaan. Itu sebabnya di dalam metode ini membuat pemahaman dan proses pembelajaran siswa lebih aktif karena mereka dipacu untuk berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan dari teman mereka yang belum jelas akan presentasi yang dilakukan oleh yang presentasi.
Oleh karena itu dalam setiap pengajaran yang dilakukan oleh para guru, mereka harus memiliki metode yang sangat menunjang. Itu semua untuk membuat para murid mengerti dengan materi yang disampaikan oleh guru. Untuk memperoleh metode yang baik dalam pengajaran, guru bisa mendapatkannya dari pelatiha-pelatihan yang ada. Guru harus selalu terbuka dalam memperbaharui ilmu keguruannya. Mereka harus mengubah pemikiran, bahwa guru tidak perlu lagi mencari ilmu. Itu sangat salah. Karena itu semua sangat penting demi perkembangan sang murid dan perkembangan pendidikan Negara ini. Sampai ada ungkapan yang dikeluarkan oleh salah satu guru saya, yaitu Pak Naruto “score is nothing but understanding is really something”.

Duit dan pendidikan…

             Dalam dunia ini tidak ada yang tidak membutuhkan apa yang kita sebut “duit”. Ibu rumah tangga, wanita bisnis, organisasi, sekolah, orang tua, anak muda, pengamen, penjabat, sampai seorang petani. Mereka semua membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Apalagi pendidikan di Indonesia, itu sangat dibutuhkan. Dari pendidikan di kota sampai pendidikan di pelosok nusantar, dari orang tak berada sampai yang punya mobil xenia. Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih kurang Berjaya di bidang olah duit untuk pendidikan. bisa dibilang bahwa uang adalah darah dari berjalannya pendidikan di Indonesia. Tanpa uang, tidak ada guru yang mau mengajar, tidak ada bangunan sekolah negeri yang bersiaga menunggu murid yang ingin menimba ilmu, tanpa uang tidak ada lagi buku gratis yang bisa dibaca oleh sebagian besar anak tak berada di Indonesia. Itulah sebabnya anggaran dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Bagaikan jantung dan otak manusia, tidak ada uang maka matilah pendidikan. Tiada otak siapa yang menjalankan jantung?.

Anggaran pendidikan di Indonesia sudah menginjak angka yang cukup fantastis yaitu Rp 207.413.531.763.000.00 atau 20% dari anggaran yang dimiliki oleh Indonesia menurut APBN tahun 2009. Ini sangat baik dan salah satu titik cerah bagi pendidikan Indonesia dari kinerja pemerintah. Ya walaupun itu dari rakyat juga, kita mesti bangga akan keputusan yang diambil pemerintah itu. Anggaran ini dikeluarkam pemerintah agar pendidikan kita tidak tertinggal dengan Negara lain. Itu benar, apabila pemerintah masih mematok angka yang sedikit untuk anggaran pendidikan, apa yang ingin kita dapat? Lebih kasihan lah anak putra putri Indonesia. Mereka akan kehilangan otak pendidikan di negeri ini. Anggaran yang tidak bisa dibilang sedikit itu, memang satu-satunya peletak kemampuan pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Bila anggaran baik dan baik juga pendistribusiannya, kita bisa lebih baik dari negara-negara lain. Dan itu semua tergantung oleh bagaimana para wakil rakyat mengolah dana itu untuk kemajuan Indonesia, bukan menambah lantai rumah mereka. Yang mulanya 3 lantai dalam 3 bulan sudah menjadi 9 lantai.
Dengan anggaran yang fantastik itu, banyak lahan-lahan empuk untuk terjadinya praktik korupsi. Itu dibuktikan dari terindikasinya 17 kasus korupsi yang disebutkan oleh www.LKKP.go.id, yang itu semua terjadi pada bulan januari-juni 2012. Itu cukup mencengangkan walaupun telah banyak praktik korupsi yang terjadi di Indonesia. Sedikit demi sedikit korupsi menggerogoti pendidikan di Indonesia dan apabila it uterus terjadi, habislah pendidikan kita. Korupsi bisa menyerang dari lapisak kalangan mana saja. Dari yang tua sampai yang muda. Karena itulah korupsi adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya, bukan hanya penyakit kusta saja ya yang belum ada obatnya. Korupsi juga sangat kuat mencengkram siapa saja yang melakukannya, sekali korupsi terus korupsi. Korupsi yang paling laris di pendidikan Indonesia adalah korupsi dana BOS. Itu karena sebagian besar anggaran pendidikan kita digunakan untuk mendanai program BOS. Seperti korupsi yang dilakukan oleh  kepala Sekolah Dasara (SD) Rappojawa. Tapi anehnya, dia hanya dihukum mendekam di penjara selama 1 tahun dengan korupsi yang ia lakukan sebanya kurang lebih Rp 1 miliar. Inikah keadilan bagi pendidikan Indonesi?. Bukan, bukan ni keadilan.
Itu sebabnya anggaran harus dikelola dengan baik oleh aparat-aparat yang bertugas, bukan malah menjadi tikus-tikus pemakan duit yang diwakilinya. Semua itu datang dari hati untuk mengembangkan pendidikan Indonesia sehingga lebih baik, bukan sebaliknya. Pemerintah harus cerdas mengelola itu. jangan hanya memakai pikiran saja, pakailah hati untuk bertindak dengan jalan yang benar. Dan untuk memajukan pendidikan Indonesia, bukan haya tugas para orang yang duduk di kursi kebesaran pemerintahan. Tapi semua lapisan masyarakat harus ikut serta dalam mengembangkan itu semua. Dan yang pasti itu adalah ikut campur yang baik ddari para murid-murid Indonesia. Bukan hanya tawuran atau kehidupan bebas yang harus mereka miliki tapi bagaimana mereka mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik. Majulah pendidikan Indonesia, aku akan berusaha di depan untuk menuntunmu, aku akan ditengah untuk bersamamu, dan aku akan di belakang untuk menjadi pendorongmu.

Bobrok Kok Teriak Bobrok



Guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, urat nadi untuk manusia adalah perumpamaan yang paling tepan untuk peran sorang guru. Karena itu guru sangat dihormati oleh kalangan apapun. Guru dianggap sebagai orang kehormatan yang setiap orang pasti dalam nada rendah bila bicara kepadanya. Itulah semua yang memang pantas guru dapatkan, karena tanpa guru, kita hidup tanpa pendidikan. Tapi tidak semua guru adalah guru yang baik untuk dijadikan contoh tauladan bagi muridnya. Walaupun mereka harus menjadi orang yang patut dicontoh anak didiknya. Karena tugas mereka adalah mendidik. Bagaimana kalo orang yang mendidik itu tidak memiliki kelakuan yang baik? Apa jadinya orang yang di didik?. Semua ini aku temukan dalam beberapa pengalamanku di saat masih di sekolah menegah pertama, sebut saja namaku seno.
Hari ini adalah hari yang membosankan dan melelahkan untuk orang yang tidak suka upacara bendera. Ya, hari ini adalah hari senin. Seperti biasa aku dan temanku ridho, berada di barisan paling belakang kelasku. Kita memang suka sekali dengan upacara bendera, karena ada kejutan-kejutan yang akan dibuat oleh guru BP yang bernama Pak Kartiman. Dan ternyata benar, para guru BP dan beberapa guru telah menggeledah tas kami semua pada saat kami melaksanakan upacara. hasilnya beberapa anak diminta untuk tinggal di lapangan upacara, dan salah satunya adalah aku. Karena memang aku membawa buku sekolah untuk mengerjakan PR dirumah kemarin minggu.dalam hati aku mengeluh “malangnya nasibmu seno, seno”. Disaat kami dibariskan di bawah tiang bendera saya dikenai hukuman tidak boleh meminjam buku selama dua minggu dan berdiri selama dua jam menghadap bendera bersama tiga temanku yang lain.
Masih ada beberapa temanku yang disidang oleh guru BP kami. Ternyata mereka ketahuan membawa telefon genggam ke sekolah, dan sekarang semua telefon genggam itu ditangan pak Kartiman. Mereka dijatuhi sanksi disita telefon genggam mereka sampai ibu mereka mengambil ke sekolah atau disita sampai semester ini selesai. Dan terlihat temanku di salah satu anak yang membawa telefon genggam bercucuran keringat, dia bernama Marko. Dan benar yang aku duga, ada vidio porno di telefon genggamnya. Maka, dibawalah dia oleh pak Kartiman ke ruang BP. Setelah hukuman selesai aku kerjakan, aku segera pergi ke kelas dan bertanya kepada salah satu temanku, apa yang Pak Kartiman lakukan kepada Marko. Ternyata pak Kartiman memulangkan Marko dan memberi orangtuanya surat panggilan ke sekolah esok hari.
Sekarang adalah waktunya pelajaran agama yang kami dapat di musholla sekolah. Dan sekarang waktuku bebas karena telah melaksanakan praktik sholat dengan Pak Sartono. Karena tidak ada hal yang aku kerjakan, aku duduk di pojokan musholla bagian dalam. Aku melihat pak Kartiman sedang asik dengan telefon genggamnya yang memang lagi keluaran baru di bagian luar musholla tepat di depanku bila tidak ada dinding dan candela yang tak jauh dari dasar lantai yang menjulang keatas. Aku berdiri untuk melemaskan badanku karena telah lama rasanya aku duduk di sana. Dan aku lirik apa yang sedang dikerjakan oleh Pak Kartiman. Memang dia tidak sadar bahwa aku memperhatikannya, karena kaca ini tidak bisa transparan dari luar. Dan aku tercengan denga apa yang aku lihat, ternyata pak Kartiman sendang menikmati vidio porno. Dan yang tidak bisa buat ku habis pikir, ini di musholla, dan paginya dia habis melakukan inspeksi ini. Di dalam hatiku aku berkata”malangnya nasib mu Marko, Marko”.
Itulah salah satu kekurang yang dimiliki oleh banyak guru di Indonesia, yaitu sifat yang tidak pantas ditiru oleh para ank didiknya. Banyak sekolah yang memampang slogan “kawasan bebas dari rokok”, tetapi masih banyak guru yang merokok di kawasan sekolah. Apalagi saya pernah menyaksikan kepala sekolah yang tidak pernah melepas puntung rokok dari jari telunjuk dan tengahnya. Apakah itu bagus untuk dicontoh?, jawabannya adalah TIDAK tentu saja. Marilah kita bersama-sama mngubah pendidikan di Indonesia lebih baik dengan memperbaiki nadi pendidikan itu sendiri. Yaitu guru yang berkompeten juga memiliki banyak kemampuan yang baik dalam system pengajaran di Indonesia.