Sabtu, 03 November 2012

Bukan Hanya Kata Tapi Realita



“Bertindaklah seolah apa yang kau lakukan membuat perbedaan. Karena kenyataannya memang begitu. Ajari murid-murid menggunakan bakat apapun yang mereka miliki. Hutan akan sunyi jika yang berkicau hanyalah burung-burung yang paling merdu kicaunya. Kita cemas akan jadi apa anak kita nantinya. Namun kita lupa bahwa ia sudah jadi seseorang sekarang.”  (Robert Maynard Hutchins). kata-kata itu mungkin jarang atau belum pernah didengar oleh banyak orang. Tapi bila direnungkan arti maknanya akan menjadi seribu kata-kata indah yang bergelora di pikiran pemikirnya. Semua orang di dunia ini memiliki kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Tapi fakta yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia, para murid masih banyak yang dipaksa untuk menurut kepada apa yang dikehendaki para orangtua atau pun guru tanpa memperdulikan kemampuan dari orang itu sendiri. Dan yang dielu-elukan sebagai yang terbaik adalah orang yang memiliki prestasi lebih tinggi dari pada yang lain. Dan yang memiliki nilai di bawah semestinya, hanya ditinggal tidak digubris. Miris memang.
Di suatu hari ada lima anak yang mendatangi gurunya. Mereka adalah Dahlan, Garudha, Rohan, Fitri, dan Nelvi. Mereka mendatangi salah satu guru fisika mereka untuk mengikuti lomba karya ilmiah yang dilaksanakan oleh mentri pendidikan di kota mereka. Mereka sangat optimis untuk bisa diijinkan dan memenangkan perlombaan itu. Tapi mereka juga sedikit pesimis karena beberapa ulangan fisika mereka bisa dibilang kurang baik. Karena menurut mereka, itu mempengaruhi keputusan Pak Santo, sang guru fisika. Dan setelah beberapa kali bertemu dengan Pak Santo, ternyata benar hasilnya. Mereka ditolak karena Pak Santo merasa mereka masih belum pantas untuk didanai oleh sekolah untuk mengikuti lomba itu. Dan sekolah lebih memlih mendanai anak-anak yang lebih baik dibandingkan mereka, menurut sekolah. Mereka pun belum putus asa. Mereka pun mengikuti perlombaan itu dengan dana mereka sendiri yang sangat pas-pasan. Tapi dengan kreativitas mereka yang lebih baik dibandingkan tiga anak yang dikirim oleh sekolah, mereka bisa menjadi juara 1 akhirnya. “Jangan pernah meragukan keberhasilan sekelompok kecil orang yang bertekad mengubah dunia karena hanya kelompok seperti itulah yang pernah berhasil melakukannya.” (Margaret Mead).
perkembangan guru di Indonesia mutlak diperlukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Tapi masih banyak guru yang masih belum ingin mengembangkan pengajarannya dengan cara masih mengunakan cara pengajaran yang didapat ilmunya di jaman dahulu. Seperti menina bobokan murid-muridnya dengan cara bercerita atau membaca disetiap saat beliau mengajar. Serta hanya mengingatkan apa yang harus dilakuakan murid, tapi beliau pun tidak bisa mencontohkannya dengan baik. Seperti yang terjadi pada aku dulu. Salah satu guru SMPku dulu mengingatkanku untuk tidak memelihara kuku terlalu panjang.  Dan selalu memberi hukuman pada anak muridnya bila ada yang memiliki kuku yang panjang. Tapi kenyataannya adalah beliau juga memelihara tiga kuku panjang sejak pertama beliau menjadi guru di sekolahku itu. “Jika kau memberi tahu mereka, mereka hanya akan melihat gerakan bibirmu. Jika kau menunjukan kepada mereka, Mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri.” (Maria Montessori)
Alangkah baiknya di pendidikan Indonesia tidak ada perbedaan antara anak yang pintar dan yang kurang pintar. Alangkah baiknya juga bila guru itu bukan malah menghardik anak yang kurang pintar dengan sebuatan kasar, tapi dengan cinta mengajarinya agar menjadi anak yang pintar nantinya. Serta baik juga bila para guru itu tidak hanya bicara agar murid mau mengikuti apa yang guru katakana, tapi jadilah guru yang mencontohkan itu semua kepada muridnya agar meniru itu dengan kesadaran diri yang baik. “Anak-anak di dalam kelas kita mutlak lebih penting daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka.”  (Meladee McCArty).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar