“Bertindaklah seolah apa yang kau lakukan membuat perbedaan. Karena
kenyataannya memang begitu. Ajari
murid-murid menggunakan bakat apapun yang mereka miliki. Hutan akan
sunyi jika yang berkicau hanyalah burung-burung yang paling merdu kicaunya.
Kita cemas akan jadi apa anak kita nantinya. Namun kita lupa bahwa ia sudah
jadi seseorang sekarang.” (Robert
Maynard Hutchins). kata-kata
itu mungkin jarang atau belum pernah didengar oleh banyak orang. Tapi bila
direnungkan arti maknanya akan menjadi seribu kata-kata indah yang bergelora di
pikiran pemikirnya. Semua orang di dunia ini memiliki kemampuan yang berbeda
antara satu dengan yang lain. Tapi fakta yang terjadi di dunia pendidikan
Indonesia, para murid masih banyak yang dipaksa untuk menurut kepada apa yang
dikehendaki para orangtua atau pun guru tanpa memperdulikan kemampuan dari
orang itu sendiri. Dan yang dielu-elukan sebagai yang terbaik adalah orang yang
memiliki prestasi lebih tinggi dari pada yang lain. Dan yang memiliki nilai di
bawah semestinya, hanya ditinggal tidak digubris. Miris memang.
Di suatu hari ada lima anak yang
mendatangi gurunya. Mereka adalah Dahlan, Garudha, Rohan, Fitri, dan Nelvi.
Mereka mendatangi salah satu guru fisika mereka untuk mengikuti lomba karya
ilmiah yang dilaksanakan oleh mentri pendidikan di kota mereka. Mereka sangat
optimis untuk bisa diijinkan dan memenangkan perlombaan itu. Tapi mereka juga
sedikit pesimis karena beberapa ulangan fisika mereka bisa dibilang kurang
baik. Karena menurut mereka, itu mempengaruhi keputusan Pak Santo, sang guru
fisika. Dan setelah beberapa kali bertemu dengan Pak Santo, ternyata benar
hasilnya. Mereka ditolak karena Pak Santo merasa mereka masih belum pantas
untuk didanai oleh sekolah untuk mengikuti lomba itu. Dan sekolah lebih memlih
mendanai anak-anak yang lebih baik dibandingkan mereka, menurut sekolah. Mereka
pun belum putus asa. Mereka pun mengikuti perlombaan itu dengan dana mereka
sendiri yang sangat pas-pasan. Tapi dengan kreativitas mereka yang lebih baik
dibandingkan tiga anak yang dikirim oleh sekolah, mereka bisa menjadi juara 1
akhirnya. “Jangan pernah meragukan keberhasilan sekelompok kecil orang yang
bertekad mengubah dunia karena hanya kelompok seperti itulah yang pernah
berhasil melakukannya.” (Margaret Mead).
perkembangan guru di Indonesia
mutlak diperlukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Tapi masih banyak
guru yang masih belum ingin mengembangkan pengajarannya dengan cara masih
mengunakan cara pengajaran yang didapat ilmunya di jaman dahulu. Seperti menina
bobokan murid-muridnya dengan cara bercerita atau membaca disetiap saat beliau
mengajar. Serta hanya mengingatkan apa yang harus dilakuakan murid, tapi beliau
pun tidak bisa mencontohkannya dengan baik. Seperti yang terjadi pada aku dulu.
Salah satu guru SMPku dulu mengingatkanku untuk tidak memelihara kuku terlalu
panjang. Dan selalu memberi hukuman pada
anak muridnya bila ada yang memiliki kuku yang panjang. Tapi kenyataannya
adalah beliau juga memelihara tiga kuku panjang sejak pertama beliau menjadi
guru di sekolahku itu. “Jika kau memberi tahu mereka, mereka hanya akan
melihat gerakan bibirmu. Jika kau menunjukan kepada
mereka, Mereka akan tergoda untuk melakukannya sendiri.” (Maria Montessori)
Alangkah
baiknya di pendidikan Indonesia tidak ada perbedaan antara anak yang pintar dan
yang kurang pintar. Alangkah baiknya juga bila guru itu bukan malah menghardik
anak yang kurang pintar dengan sebuatan kasar, tapi dengan cinta mengajarinya
agar menjadi anak yang pintar nantinya. Serta baik juga bila para guru itu
tidak hanya bicara agar murid mau mengikuti apa yang guru katakana, tapi
jadilah guru yang mencontohkan itu semua kepada muridnya agar meniru itu dengan
kesadaran diri yang baik. “Anak-anak di dalam kelas kita mutlak lebih penting
daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka.” (Meladee McCArty).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar