Sabtu, 03 November 2012

Apakah Segampang Ini?



Namaku adalah khoirul rohman yang bisa dipanggil khoirul, saya adalah siswa SMP Negeri Kompak Selamanya. Ceritaku ini aku mulai pada saat pagi dari hari penentuan setelah aku tiga tahun sekolah di SMP ku ini. Ya benar, hari ini hari ujian nasional atau UN. Aku berharap untuk mendapatkan hari yang sempurna untuk hari penentuan ini. Seperti biasa, aku berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepede ontel milik pamanku yang telah aku pinjam selama tiga tahun ini untuk sekolah. Aku berangkat ke sekolahku yang sekitar lima kilometer dari rumah pagi-pagi sekali. Itu aku lakukan untuk bisa sedikit belajar kembali di sekolah sebelum ulang.
Sekitar 20 menit perjalanan aku sampai di sekolahku, segeralah aku menaruh sepeda di parkiran bersama sepeda lainnya dan masuk kelas. Kelas serasa seperti aku di kuburan tanpa mayat, sepi, tak ada  hiruk pikuk teman-temanku serta papan yang masih kotor karena jam tambahan yang dilakukan wali kelasku kemarin sore. Mulailah aku belajar matematika berharap ini bisa mngalihkan pikiranku akan sepinya kelas ini. Dan juga pastinya hari ini adalah pelajaran matematika yang akan aku dapat. Dan beberapa temanku pun datang satu persatu, menyapaku dengan riang lalu pergi lagi entah kemana. Setelah belajar matematika didalam kelas selesai, aku pergi ke luar kelas untuk bermai bersama teman-temanku atau berdiskusi bersama.
Di luar kelas aku bertemu dengan beberapa temanku yang sedang asikberdiskusi tentang ujian yang akan kami dapat hari ini. Aku pun ikut bersama mereka dengan senyum manisku. “kalian sedang apa?” tanyaku . “sedang berdiskusi rul” jawab salah satu temanku yang bernama Yogi. Setelah kami berdiskusi cukup panjang datanglah anak yang bernama Nanda. Dia seorang laki-laki yang tinggi gempal dan kulit yang berwarna putih. Maklum, dia adalah anak sorang penjabat polisi yang kaya, jadi anak yang terawat. Dia satu kelas denganku dan bisa dibilang sedikit teman. Karena dia hanya mengandalkan uang ayahnya untuk mendapatkan sesuatu. Dia datang dan ikut bersama kami untuk berdiskusi. Teman kami Ditto sedang menjelaskan salah satu soal matematika, saat itu Nanda sedang seriusnya memandangi Ditto dan mendengarkannya dengan seksama. Ditto pun selesai menerangkan dan digantikan oleh alex yang menjelaskan tentang aljabar.
Di tengah-tengah penjelasan Alex, Nanda memotong  “buat apa belajar, aku juga akan bisa dapat nilai bagus.”. “maksudmu apa Nan?”, tanya Alex dengan muka cemberut karena ada orang yang menyela penjelasannya. “ya pastilah aku akan dapet seratus, Kan aku punya kunci jawabannya”, jawabnya dengan nada mengejek Ditto. “mana? Keluarkan dong biar kami percaya”, balas Ditto dengan muka merah karena sedikit marah. “ini” jawabnya dengan mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan angka dan jawaban a, b, c, dan d di setiap nomor. “dari mana kau mendapatkannya Nan?” tanyaku dengan muka heran. “tidak tau, katanya papaku mendapatkannya dari beli. Dan diberikanlah kepadaku” . “cep, cep, cep” keluarlah bunyi mengecap dari mulutku tanda prihatin akan itu semua. Dan bel tandan ujian dimulai pun bordering “kriiiiinnnngggggggg!!!!” aku lekas masuk kelas dan ujian pun dimulai.
Dari ceritaku di atas bisa dilihat bahwa masih banyak sekali kekurangan yang ada di dunia pendidikan Indonesia. Seperti kecuranga yang terjadi pada saat ujian, seperti bocornya soal atau nilai murid yang mengada-ada karena sogokan uang yang diberikan oleh para wali murid untuk gurunya agar nilai anak mereka tidak turun atau di bawah setandar pencapaian. Bila kecurangan-kecurangan semacam ini tidak dibrantas apa yang akan terjadi dengan masa depan negri ini. Khususnya pendidikan Indonesia, kapan pendidikan nasional akan maju?. Mulailah dari diri yang bersih untuk bisa memajukan apa yang ingin kita majukan. Merah putih pasti berjaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar