Namaku adalah khoirul rohman yang
bisa dipanggil khoirul, saya adalah siswa SMP Negeri Kompak Selamanya. Ceritaku
ini aku mulai pada saat pagi dari hari penentuan setelah aku tiga tahun sekolah
di SMP ku ini. Ya benar, hari ini hari ujian nasional atau UN. Aku berharap
untuk mendapatkan hari yang sempurna untuk hari penentuan ini. Seperti biasa,
aku berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepede ontel milik pamanku yang
telah aku pinjam selama tiga tahun ini untuk sekolah. Aku berangkat ke
sekolahku yang sekitar lima kilometer dari rumah pagi-pagi sekali. Itu aku
lakukan untuk bisa sedikit belajar kembali di sekolah sebelum ulang.
Sekitar 20 menit perjalanan aku
sampai di sekolahku, segeralah aku menaruh sepeda di parkiran bersama sepeda
lainnya dan masuk kelas. Kelas serasa seperti aku di kuburan tanpa mayat, sepi,
tak ada hiruk pikuk teman-temanku serta
papan yang masih kotor karena jam tambahan yang dilakukan wali kelasku kemarin
sore. Mulailah aku belajar matematika berharap ini bisa mngalihkan pikiranku
akan sepinya kelas ini. Dan juga pastinya hari ini adalah pelajaran matematika
yang akan aku dapat. Dan beberapa temanku pun datang satu persatu, menyapaku
dengan riang lalu pergi lagi entah kemana. Setelah belajar matematika didalam
kelas selesai, aku pergi ke luar kelas untuk bermai bersama teman-temanku atau
berdiskusi bersama.
Di luar kelas aku bertemu dengan
beberapa temanku yang sedang asikberdiskusi tentang ujian yang akan kami dapat
hari ini. Aku pun ikut bersama mereka dengan senyum manisku. “kalian sedang
apa?” tanyaku . “sedang berdiskusi rul” jawab salah satu temanku yang bernama Yogi.
Setelah kami berdiskusi cukup panjang datanglah anak yang bernama Nanda. Dia
seorang laki-laki yang tinggi gempal dan kulit yang berwarna putih. Maklum, dia
adalah anak sorang penjabat polisi yang kaya, jadi anak yang terawat. Dia satu
kelas denganku dan bisa dibilang sedikit teman. Karena dia hanya mengandalkan
uang ayahnya untuk mendapatkan sesuatu. Dia datang dan ikut bersama kami untuk
berdiskusi. Teman kami Ditto sedang menjelaskan salah satu soal matematika,
saat itu Nanda sedang seriusnya memandangi Ditto dan mendengarkannya dengan
seksama. Ditto pun selesai menerangkan dan digantikan oleh alex yang
menjelaskan tentang aljabar.
Di tengah-tengah penjelasan Alex,
Nanda memotong “buat apa belajar, aku
juga akan bisa dapat nilai bagus.”. “maksudmu apa Nan?”, tanya Alex dengan muka
cemberut karena ada orang yang menyela penjelasannya. “ya pastilah aku akan
dapet seratus, Kan aku punya kunci jawabannya”, jawabnya dengan nada mengejek
Ditto. “mana? Keluarkan dong biar kami percaya”, balas Ditto dengan muka merah
karena sedikit marah. “ini” jawabnya dengan mengeluarkan secarik kertas yang
bertuliskan angka dan jawaban a, b, c, dan d di setiap nomor. “dari mana kau
mendapatkannya Nan?” tanyaku dengan muka heran. “tidak tau, katanya papaku
mendapatkannya dari beli. Dan diberikanlah kepadaku” . “cep, cep, cep”
keluarlah bunyi mengecap dari mulutku tanda prihatin akan itu semua. Dan bel
tandan ujian dimulai pun bordering “kriiiiinnnngggggggg!!!!” aku lekas masuk
kelas dan ujian pun dimulai.
Dari ceritaku di atas bisa
dilihat bahwa masih banyak sekali kekurangan yang ada di dunia pendidikan
Indonesia. Seperti kecuranga yang terjadi pada saat ujian, seperti bocornya
soal atau nilai murid yang mengada-ada karena sogokan uang yang diberikan oleh
para wali murid untuk gurunya agar nilai anak mereka tidak turun atau di bawah
setandar pencapaian. Bila kecurangan-kecurangan semacam ini tidak dibrantas apa
yang akan terjadi dengan masa depan negri ini. Khususnya pendidikan Indonesia,
kapan pendidikan nasional akan maju?. Mulailah dari diri yang bersih untuk bisa
memajukan apa yang ingin kita majukan. Merah putih pasti berjaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar