Sabtu, 03 November 2012

Duit dan pendidikan…

             Dalam dunia ini tidak ada yang tidak membutuhkan apa yang kita sebut “duit”. Ibu rumah tangga, wanita bisnis, organisasi, sekolah, orang tua, anak muda, pengamen, penjabat, sampai seorang petani. Mereka semua membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Apalagi pendidikan di Indonesia, itu sangat dibutuhkan. Dari pendidikan di kota sampai pendidikan di pelosok nusantar, dari orang tak berada sampai yang punya mobil xenia. Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih kurang Berjaya di bidang olah duit untuk pendidikan. bisa dibilang bahwa uang adalah darah dari berjalannya pendidikan di Indonesia. Tanpa uang, tidak ada guru yang mau mengajar, tidak ada bangunan sekolah negeri yang bersiaga menunggu murid yang ingin menimba ilmu, tanpa uang tidak ada lagi buku gratis yang bisa dibaca oleh sebagian besar anak tak berada di Indonesia. Itulah sebabnya anggaran dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Bagaikan jantung dan otak manusia, tidak ada uang maka matilah pendidikan. Tiada otak siapa yang menjalankan jantung?.

Anggaran pendidikan di Indonesia sudah menginjak angka yang cukup fantastis yaitu Rp 207.413.531.763.000.00 atau 20% dari anggaran yang dimiliki oleh Indonesia menurut APBN tahun 2009. Ini sangat baik dan salah satu titik cerah bagi pendidikan Indonesia dari kinerja pemerintah. Ya walaupun itu dari rakyat juga, kita mesti bangga akan keputusan yang diambil pemerintah itu. Anggaran ini dikeluarkam pemerintah agar pendidikan kita tidak tertinggal dengan Negara lain. Itu benar, apabila pemerintah masih mematok angka yang sedikit untuk anggaran pendidikan, apa yang ingin kita dapat? Lebih kasihan lah anak putra putri Indonesia. Mereka akan kehilangan otak pendidikan di negeri ini. Anggaran yang tidak bisa dibilang sedikit itu, memang satu-satunya peletak kemampuan pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Bila anggaran baik dan baik juga pendistribusiannya, kita bisa lebih baik dari negara-negara lain. Dan itu semua tergantung oleh bagaimana para wakil rakyat mengolah dana itu untuk kemajuan Indonesia, bukan menambah lantai rumah mereka. Yang mulanya 3 lantai dalam 3 bulan sudah menjadi 9 lantai.
Dengan anggaran yang fantastik itu, banyak lahan-lahan empuk untuk terjadinya praktik korupsi. Itu dibuktikan dari terindikasinya 17 kasus korupsi yang disebutkan oleh www.LKKP.go.id, yang itu semua terjadi pada bulan januari-juni 2012. Itu cukup mencengangkan walaupun telah banyak praktik korupsi yang terjadi di Indonesia. Sedikit demi sedikit korupsi menggerogoti pendidikan di Indonesia dan apabila it uterus terjadi, habislah pendidikan kita. Korupsi bisa menyerang dari lapisak kalangan mana saja. Dari yang tua sampai yang muda. Karena itulah korupsi adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya, bukan hanya penyakit kusta saja ya yang belum ada obatnya. Korupsi juga sangat kuat mencengkram siapa saja yang melakukannya, sekali korupsi terus korupsi. Korupsi yang paling laris di pendidikan Indonesia adalah korupsi dana BOS. Itu karena sebagian besar anggaran pendidikan kita digunakan untuk mendanai program BOS. Seperti korupsi yang dilakukan oleh  kepala Sekolah Dasara (SD) Rappojawa. Tapi anehnya, dia hanya dihukum mendekam di penjara selama 1 tahun dengan korupsi yang ia lakukan sebanya kurang lebih Rp 1 miliar. Inikah keadilan bagi pendidikan Indonesi?. Bukan, bukan ni keadilan.
Itu sebabnya anggaran harus dikelola dengan baik oleh aparat-aparat yang bertugas, bukan malah menjadi tikus-tikus pemakan duit yang diwakilinya. Semua itu datang dari hati untuk mengembangkan pendidikan Indonesia sehingga lebih baik, bukan sebaliknya. Pemerintah harus cerdas mengelola itu. jangan hanya memakai pikiran saja, pakailah hati untuk bertindak dengan jalan yang benar. Dan untuk memajukan pendidikan Indonesia, bukan haya tugas para orang yang duduk di kursi kebesaran pemerintahan. Tapi semua lapisan masyarakat harus ikut serta dalam mengembangkan itu semua. Dan yang pasti itu adalah ikut campur yang baik ddari para murid-murid Indonesia. Bukan hanya tawuran atau kehidupan bebas yang harus mereka miliki tapi bagaimana mereka mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik. Majulah pendidikan Indonesia, aku akan berusaha di depan untuk menuntunmu, aku akan ditengah untuk bersamamu, dan aku akan di belakang untuk menjadi pendorongmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar