Pagi ini adalah sinar tercerah yang mendatangi
desa terbelakang di pedalaman Papua yang bernama desa Palipo. Tinggal seorang
ank kecil yang sekarang duduk di bangku
sekolah kelas tiga SD bernama Mando. Mando tinggal di rumah kecil beratapkan
daun lontar bersama dua orangtuanya yang bernama Sarah dand Pama. Sarah bekerja
sebagai pencaru kayu dihutan dan Pama adalah pengambil daun lonta. Tapi itu
Pama yang dulu, sebelum kecelakaan yang menimpanya membuat Pama hanya bisa
duduk, berbaring, dan berdiam diri memandangi langit-langit rumah karena
mendapatkan gangguan syaraf otak setelah kepalanya terbentur batu. Namun,
keterbatasan itu tidak membuat Mando lekas patah arang untuk mengejar cita-cita
sebagai presiden Indonesia dimasa depan. Mando bersekolah di SD Guru Harapan
Kita untuk mengejar cita-cita setinggi langit itu.
Mando memiliki cita-cita yang sangat membara di
hatinya, yang tidak akan bisa hanya oleh dinginnya es Kutub Utara. sering kali
olok dan cacian dari temannya menghujam hati si kecil Mando akan cita-citanya
itu. Karena menurut temannya itu cita-cita orang gila untuk seorang Mando.
Sesekali orang dewasa pun menghardik anak Sarah itu dengan kata “pemimpi!” dan
membuat hati Sarah sedikit tersayat dan mengelus dadanya untuk mengurangi rasa
sakit sayatan itu. Sarah percaya kepada cita-cita anaknya itu. tetapi dengan
keterbatasan mereka yang untuk bermimpi enak saja susah, beberapa kali patah
arang untuk mendukung anak tercintanya itu. Disaat memangku Mando yang sedang
belajar di remang-remangnya obor yang menyala, dia berkata: ”cita-cita yang
tinggi itu bagus Mando, tetapi lihatlah keadaan kita yang seperti in. lihatlah
bapakmu, dia sudah tidak bisa mengenal cita-citamu. Apa mungkin hanya dengan
tangan ibu?”, Lalu dielusnya kepala anaknya itu. Nando pun melemparkan secerca
senyum kepada ibunya lalu kembali melanjutkan belajarnya, dam sesekali melirik
bapaknya yang telah tertidur lelap.
Pagi-pagi buat Mando telah bangun untuk
menjemput cita-citanya di SD Guru Harapan Kita. Di pagi yang matahari pun belum
memancarkan setitik cahayanya, Mando telah memegang dua ember yang terbuat dari
daun lontar lalu pergi mengambil air mandinya. Jarak yang tidak dekat untuk
mengambil air, dia lakoni dengan telanjang kaki. Itu membuat rasa dingin tanah
pagi menusuk ke pori-pori kaki mungilnya. Setelah dirasa cukup air untuk mandi
semua keluarganya, dia melanjutkan pagi itu dengan aktifitas mandi dan
bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Untuk sekolah dia hanya menggunakan celanak
pendek merah sekolah dasar yang diberi oleh keibaan salah satu guru sukarelanya
yang telah bolong sana sini karena dipakainya sejak kelas satu SD. Maklum, itu
dikarenakan jauhnya perkampungan itu dengan dunia luar dan kekuatan ibunya yang
hanya dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah hanya sekadar untuk makan saja.
Jarak yang jauh dari sekolahnya harus membuat Membuat Mando pergi lebih
berangkat lebih pagi dari pada teman-temannya yang tinggal di kampong lain.
Jalan yang terjal dan harus melewati jembatan tali yang berbahaya, membuat
santi tidak bias tenang menunggu anaknya itu pulang. Tapi sebelum berangkat
Mando selalu berkata “Minta izin menggapai cita-cita Mando ya bu?”. Sarah pun
hanya bias mengangguk dabn mengelus kepala pahlawan kecilnya itu.
Setelah Mando sampai di sekolah, dia harus
menunggu bersama teman-temannya untuk dibukakan pintu kelas oleh guru yang
mengajar mereka hari ini. Sambil bermain mereka harap-harap cemas menunggu guru
datang, karena mereka takut gurunya hilang lagi seperti kemarin. Di sekolah ini
memang tidak ada guru yang menetap terlalu lama. karena fasilitas sekolah yang
tidak ada, hanya berupa satu bangunan bekas kandang sapi serta gaji dari
pemerintah daerah yang tak cukup, mereka semua enggan mengajar ditempat ini. Dan
akhirnya dengan senyum Pak Halim sang guru baru datang juga, “pagi anak-anak,
ayo masuk”. Para murid pun bersorak “hore! Pak Halim datang!”, dengan sedikit
ribut mereka mengikuti Pak Halim dan berbisik satu sama lain “ayo masuk, ayo
masuk, ayo masuk”. Dan seperti biasa Mando duduk di paling depan untuk untuk
dapat mengerti apa yang diajarkan oleh Pak Halim, karena dia dan teman-temannya
hanya bisa mendengar dan melafalkan kembali yang diajarkan dirumah mereka
masing-masing. Itu karena mereka tidak memiliki buku sama sekali. Hanya Pak
Halim yang membawa buku, dan menulis semua materi yang akan diajarkan di papan
tulis. Setelah pelajaran dirasa sudah terlalu lama dan cukup, murid-murid
dipulangkan. Mando pun menghadapi bahaya rintangan pulang lagi untuk mencapai
rumahnya.
Setelah
Mando sampai dirumah, ia melihat ibunya sedang mengeringkan kayu untuk
dijual. Mando segera memeluk ibunya dan berkata “Bu, Mando tidak mau jadi
presiden lagi!” ibunya pun kaget dengan perkataan Mando itu. “kenapa nak?”
sahutnya. “Mando sudah tidak percaya keppada pak presiden lagi bu.” Timpal
mando. “loh? Kenapa?” makin kagetlah sarah dengan perkataan polos anaknya itu.
Dengan dipangku oleh ibunya Mando menjawab “pak presiden sudah mematahkan
cita-ciita Mando bu. Karena tidak memberi sekolah yang bagus sama Mando, biar
Mando bisa seperti pak presiden. Buku saja, Cuma Pak Halim yang diberi buku.
Kapan Mando bisa belajar paki buku saambil dipangku ibu?”. Sarah pun terdiam memandangi
muka sedih anaknya, lalu dia berkata dalam hati “mengapa semangat tak
terpadamkan anakku bisa mati hanya dengan cita-citanya sendiri? Pak presiden.
Kembalikanlah cita-cita anakku, berilah dia sekolah dan buku yang dapat menempanya bisa
sepertimu. Sehingga bisa dia belajar dengan buku di pangkuanku, bukan hanya
bicara tidak jelas kemana arahnya karena hanya mengingat-ingat tulisan di papan
dan apa yang guru itu jelaskan”. “tega kah kau?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar