Sabtu, 03 November 2012

INILAH PEDALAMANMU, INDONESIA!



Pagi ini adalah sinar tercerah yang mendatangi desa terbelakang di pedalaman Papua yang bernama desa Palipo. Tinggal seorang ank kecil yang  sekarang duduk di bangku sekolah kelas tiga SD bernama Mando. Mando tinggal di rumah kecil beratapkan daun lontar bersama dua orangtuanya yang bernama Sarah dand Pama. Sarah bekerja sebagai pencaru kayu dihutan dan Pama adalah pengambil daun lonta. Tapi itu Pama yang dulu, sebelum kecelakaan yang menimpanya membuat Pama hanya bisa duduk, berbaring, dan berdiam diri memandangi langit-langit rumah karena mendapatkan gangguan syaraf otak setelah kepalanya terbentur batu. Namun, keterbatasan itu tidak membuat Mando lekas patah arang untuk mengejar cita-cita sebagai presiden Indonesia dimasa depan. Mando bersekolah di SD Guru Harapan Kita untuk mengejar cita-cita setinggi langit itu.
Mando memiliki cita-cita yang sangat membara di hatinya, yang tidak akan bisa hanya oleh dinginnya es Kutub Utara. sering kali olok dan cacian dari temannya menghujam hati si kecil Mando akan cita-citanya itu. Karena menurut temannya itu cita-cita orang gila untuk seorang Mando. Sesekali orang dewasa pun menghardik anak Sarah itu dengan kata “pemimpi!” dan membuat hati Sarah sedikit tersayat dan mengelus dadanya untuk mengurangi rasa sakit sayatan itu. Sarah percaya kepada cita-cita anaknya itu. tetapi dengan keterbatasan mereka yang untuk bermimpi enak saja susah, beberapa kali patah arang untuk mendukung anak tercintanya itu. Disaat memangku Mando yang sedang belajar di remang-remangnya obor yang menyala, dia berkata: ”cita-cita yang tinggi itu bagus Mando, tetapi lihatlah keadaan kita yang seperti in. lihatlah bapakmu, dia sudah tidak bisa mengenal cita-citamu. Apa mungkin hanya dengan tangan ibu?”, Lalu dielusnya kepala anaknya itu. Nando pun melemparkan secerca senyum kepada ibunya lalu kembali melanjutkan belajarnya, dam sesekali melirik bapaknya yang telah tertidur lelap.
Pagi-pagi buat Mando telah bangun untuk menjemput cita-citanya di SD Guru Harapan Kita. Di pagi yang matahari pun belum memancarkan setitik cahayanya, Mando telah memegang dua ember yang terbuat dari daun lontar lalu pergi mengambil air mandinya. Jarak yang tidak dekat untuk mengambil air, dia lakoni dengan telanjang kaki. Itu membuat rasa dingin tanah pagi menusuk ke pori-pori kaki mungilnya. Setelah dirasa cukup air untuk mandi semua keluarganya, dia melanjutkan pagi itu dengan aktifitas mandi dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Untuk sekolah dia hanya menggunakan celanak pendek merah sekolah dasar yang diberi oleh keibaan salah satu guru sukarelanya yang telah bolong sana sini karena dipakainya sejak kelas satu SD. Maklum, itu dikarenakan jauhnya perkampungan itu dengan dunia luar dan kekuatan ibunya yang hanya dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah hanya sekadar untuk makan saja. Jarak yang jauh dari sekolahnya harus membuat Membuat Mando pergi lebih berangkat lebih pagi dari pada teman-temannya yang tinggal di kampong lain. Jalan yang terjal dan harus melewati jembatan tali yang berbahaya, membuat santi tidak bias tenang menunggu anaknya itu pulang. Tapi sebelum berangkat Mando selalu berkata “Minta izin menggapai cita-cita Mando ya bu?”. Sarah pun hanya bias mengangguk dabn mengelus kepala pahlawan kecilnya itu.
Setelah Mando sampai di sekolah, dia harus menunggu bersama teman-temannya untuk dibukakan pintu kelas oleh guru yang mengajar mereka hari ini. Sambil bermain mereka harap-harap cemas menunggu guru datang, karena mereka takut gurunya hilang lagi seperti kemarin. Di sekolah ini memang tidak ada guru yang menetap terlalu lama. karena fasilitas sekolah yang tidak ada, hanya berupa satu bangunan bekas kandang sapi serta gaji dari pemerintah daerah yang tak cukup, mereka semua enggan mengajar ditempat ini. Dan akhirnya dengan senyum Pak Halim sang guru baru datang juga, “pagi anak-anak, ayo masuk”. Para murid pun bersorak “hore! Pak Halim datang!”, dengan sedikit ribut mereka mengikuti Pak Halim dan berbisik satu sama lain “ayo masuk, ayo masuk, ayo masuk”. Dan seperti biasa Mando duduk di paling depan untuk untuk dapat mengerti apa yang diajarkan oleh Pak Halim, karena dia dan teman-temannya hanya bisa mendengar dan melafalkan kembali yang diajarkan dirumah mereka masing-masing. Itu karena mereka tidak memiliki buku sama sekali. Hanya Pak Halim yang membawa buku, dan menulis semua materi yang akan diajarkan di papan tulis. Setelah pelajaran dirasa sudah terlalu lama dan cukup, murid-murid dipulangkan. Mando pun menghadapi bahaya rintangan pulang lagi untuk mencapai rumahnya.
Setelah  Mando sampai dirumah, ia melihat ibunya sedang mengeringkan kayu untuk dijual. Mando segera memeluk ibunya dan berkata “Bu, Mando tidak mau jadi presiden lagi!” ibunya pun kaget dengan perkataan Mando itu. “kenapa nak?” sahutnya. “Mando sudah tidak percaya keppada pak presiden lagi bu.” Timpal mando. “loh? Kenapa?” makin kagetlah sarah dengan perkataan polos anaknya itu. Dengan dipangku oleh ibunya Mando menjawab “pak presiden sudah mematahkan cita-ciita Mando bu. Karena tidak memberi sekolah yang bagus sama Mando, biar Mando bisa seperti pak presiden. Buku saja, Cuma Pak Halim yang diberi buku. Kapan Mando bisa belajar paki buku saambil dipangku ibu?”. Sarah pun terdiam memandangi muka sedih anaknya, lalu dia berkata dalam hati “mengapa semangat tak terpadamkan anakku bisa mati hanya dengan cita-citanya sendiri? Pak presiden. Kembalikanlah cita-cita anakku, berilah dia sekolah  dan buku yang dapat menempanya bisa sepertimu. Sehingga bisa dia belajar dengan buku di pangkuanku, bukan hanya bicara tidak jelas kemana arahnya karena hanya mengingat-ingat tulisan di papan dan apa yang guru itu jelaskan”. “tega kah kau?”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar