Sabtu, 03 November 2012

Bobrok Kok Teriak Bobrok



Guru adalah orang yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan, urat nadi untuk manusia adalah perumpamaan yang paling tepan untuk peran sorang guru. Karena itu guru sangat dihormati oleh kalangan apapun. Guru dianggap sebagai orang kehormatan yang setiap orang pasti dalam nada rendah bila bicara kepadanya. Itulah semua yang memang pantas guru dapatkan, karena tanpa guru, kita hidup tanpa pendidikan. Tapi tidak semua guru adalah guru yang baik untuk dijadikan contoh tauladan bagi muridnya. Walaupun mereka harus menjadi orang yang patut dicontoh anak didiknya. Karena tugas mereka adalah mendidik. Bagaimana kalo orang yang mendidik itu tidak memiliki kelakuan yang baik? Apa jadinya orang yang di didik?. Semua ini aku temukan dalam beberapa pengalamanku di saat masih di sekolah menegah pertama, sebut saja namaku seno.
Hari ini adalah hari yang membosankan dan melelahkan untuk orang yang tidak suka upacara bendera. Ya, hari ini adalah hari senin. Seperti biasa aku dan temanku ridho, berada di barisan paling belakang kelasku. Kita memang suka sekali dengan upacara bendera, karena ada kejutan-kejutan yang akan dibuat oleh guru BP yang bernama Pak Kartiman. Dan ternyata benar, para guru BP dan beberapa guru telah menggeledah tas kami semua pada saat kami melaksanakan upacara. hasilnya beberapa anak diminta untuk tinggal di lapangan upacara, dan salah satunya adalah aku. Karena memang aku membawa buku sekolah untuk mengerjakan PR dirumah kemarin minggu.dalam hati aku mengeluh “malangnya nasibmu seno, seno”. Disaat kami dibariskan di bawah tiang bendera saya dikenai hukuman tidak boleh meminjam buku selama dua minggu dan berdiri selama dua jam menghadap bendera bersama tiga temanku yang lain.
Masih ada beberapa temanku yang disidang oleh guru BP kami. Ternyata mereka ketahuan membawa telefon genggam ke sekolah, dan sekarang semua telefon genggam itu ditangan pak Kartiman. Mereka dijatuhi sanksi disita telefon genggam mereka sampai ibu mereka mengambil ke sekolah atau disita sampai semester ini selesai. Dan terlihat temanku di salah satu anak yang membawa telefon genggam bercucuran keringat, dia bernama Marko. Dan benar yang aku duga, ada vidio porno di telefon genggamnya. Maka, dibawalah dia oleh pak Kartiman ke ruang BP. Setelah hukuman selesai aku kerjakan, aku segera pergi ke kelas dan bertanya kepada salah satu temanku, apa yang Pak Kartiman lakukan kepada Marko. Ternyata pak Kartiman memulangkan Marko dan memberi orangtuanya surat panggilan ke sekolah esok hari.
Sekarang adalah waktunya pelajaran agama yang kami dapat di musholla sekolah. Dan sekarang waktuku bebas karena telah melaksanakan praktik sholat dengan Pak Sartono. Karena tidak ada hal yang aku kerjakan, aku duduk di pojokan musholla bagian dalam. Aku melihat pak Kartiman sedang asik dengan telefon genggamnya yang memang lagi keluaran baru di bagian luar musholla tepat di depanku bila tidak ada dinding dan candela yang tak jauh dari dasar lantai yang menjulang keatas. Aku berdiri untuk melemaskan badanku karena telah lama rasanya aku duduk di sana. Dan aku lirik apa yang sedang dikerjakan oleh Pak Kartiman. Memang dia tidak sadar bahwa aku memperhatikannya, karena kaca ini tidak bisa transparan dari luar. Dan aku tercengan denga apa yang aku lihat, ternyata pak Kartiman sendang menikmati vidio porno. Dan yang tidak bisa buat ku habis pikir, ini di musholla, dan paginya dia habis melakukan inspeksi ini. Di dalam hatiku aku berkata”malangnya nasib mu Marko, Marko”.
Itulah salah satu kekurang yang dimiliki oleh banyak guru di Indonesia, yaitu sifat yang tidak pantas ditiru oleh para ank didiknya. Banyak sekolah yang memampang slogan “kawasan bebas dari rokok”, tetapi masih banyak guru yang merokok di kawasan sekolah. Apalagi saya pernah menyaksikan kepala sekolah yang tidak pernah melepas puntung rokok dari jari telunjuk dan tengahnya. Apakah itu bagus untuk dicontoh?, jawabannya adalah TIDAK tentu saja. Marilah kita bersama-sama mngubah pendidikan di Indonesia lebih baik dengan memperbaiki nadi pendidikan itu sendiri. Yaitu guru yang berkompeten juga memiliki banyak kemampuan yang baik dalam system pengajaran di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar