Guru adalah orang yang paling
berpengaruh dalam dunia pendidikan, urat nadi untuk manusia adalah perumpamaan
yang paling tepan untuk peran sorang guru. Karena itu guru sangat dihormati
oleh kalangan apapun. Guru dianggap sebagai orang kehormatan yang setiap orang
pasti dalam nada rendah bila bicara kepadanya. Itulah semua yang memang pantas
guru dapatkan, karena tanpa guru, kita hidup tanpa pendidikan. Tapi tidak semua
guru adalah guru yang baik untuk dijadikan contoh tauladan bagi muridnya. Walaupun
mereka harus menjadi orang yang patut dicontoh anak didiknya. Karena tugas
mereka adalah mendidik. Bagaimana kalo orang yang mendidik itu tidak memiliki
kelakuan yang baik? Apa jadinya orang yang di didik?. Semua ini aku temukan
dalam beberapa pengalamanku di saat masih di sekolah menegah pertama, sebut
saja namaku seno.
Hari ini adalah hari yang
membosankan dan melelahkan untuk orang yang tidak suka upacara bendera. Ya,
hari ini adalah hari senin. Seperti biasa aku dan temanku ridho, berada di
barisan paling belakang kelasku. Kita memang suka sekali dengan upacara
bendera, karena ada kejutan-kejutan yang akan dibuat oleh guru BP yang bernama
Pak Kartiman. Dan ternyata benar, para guru BP dan beberapa guru telah
menggeledah tas kami semua pada saat kami melaksanakan upacara. hasilnya
beberapa anak diminta untuk tinggal di lapangan upacara, dan salah satunya
adalah aku. Karena memang aku membawa buku sekolah untuk mengerjakan PR dirumah
kemarin minggu.dalam hati aku mengeluh “malangnya nasibmu seno, seno”. Disaat
kami dibariskan di bawah tiang bendera saya dikenai hukuman tidak boleh
meminjam buku selama dua minggu dan berdiri selama dua jam menghadap bendera
bersama tiga temanku yang lain.
Masih ada beberapa temanku yang
disidang oleh guru BP kami. Ternyata mereka ketahuan membawa telefon genggam ke
sekolah, dan sekarang semua telefon genggam itu ditangan pak Kartiman. Mereka
dijatuhi sanksi disita telefon genggam mereka sampai ibu mereka mengambil ke
sekolah atau disita sampai semester ini selesai. Dan terlihat temanku di salah
satu anak yang membawa telefon genggam bercucuran keringat, dia bernama Marko.
Dan benar yang aku duga, ada vidio porno di telefon genggamnya. Maka, dibawalah
dia oleh pak Kartiman ke ruang BP. Setelah hukuman selesai aku kerjakan, aku
segera pergi ke kelas dan bertanya kepada salah satu temanku, apa yang Pak
Kartiman lakukan kepada Marko. Ternyata pak Kartiman memulangkan Marko dan
memberi orangtuanya surat panggilan ke sekolah esok hari.
Sekarang adalah waktunya pelajaran
agama yang kami dapat di musholla sekolah. Dan sekarang waktuku bebas karena
telah melaksanakan praktik sholat dengan Pak Sartono. Karena tidak ada hal yang
aku kerjakan, aku duduk di pojokan musholla bagian dalam. Aku melihat pak
Kartiman sedang asik dengan telefon genggamnya yang memang lagi keluaran baru
di bagian luar musholla tepat di depanku bila tidak ada dinding dan candela
yang tak jauh dari dasar lantai yang menjulang keatas. Aku berdiri untuk
melemaskan badanku karena telah lama rasanya aku duduk di sana. Dan aku lirik
apa yang sedang dikerjakan oleh Pak Kartiman. Memang dia tidak sadar bahwa aku
memperhatikannya, karena kaca ini tidak bisa transparan dari luar. Dan aku
tercengan denga apa yang aku lihat, ternyata pak Kartiman sendang menikmati
vidio porno. Dan yang tidak bisa buat ku habis pikir, ini di musholla, dan
paginya dia habis melakukan inspeksi ini. Di dalam hatiku aku berkata”malangnya
nasib mu Marko, Marko”.
Itulah salah satu kekurang yang
dimiliki oleh banyak guru di Indonesia, yaitu sifat yang tidak pantas ditiru
oleh para ank didiknya. Banyak sekolah yang memampang slogan “kawasan bebas
dari rokok”, tetapi masih banyak guru yang merokok di kawasan sekolah. Apalagi
saya pernah menyaksikan kepala sekolah yang tidak pernah melepas puntung rokok
dari jari telunjuk dan tengahnya. Apakah itu bagus untuk dicontoh?, jawabannya
adalah TIDAK tentu saja. Marilah kita bersama-sama mngubah pendidikan di
Indonesia lebih baik dengan memperbaiki nadi pendidikan itu sendiri. Yaitu guru
yang berkompeten juga memiliki banyak kemampuan yang baik dalam system
pengajaran di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar